Ustadz Taqwa: Zakat dan Sedekah Adalah Wujud Nyata Mengamalkan Sila Kelima Pancasila
Deka Faiz
.png&w=3840&q=75)
PALEMBANG – Pembumian nilai-nilai Pancasila tidak harus selalu lewat retorika yang berat atau diskusi yang rumit. Ketua LazisNU Sumatra Selatan, H.M. Irawan Taqwa, Lc, M.M., yang akrab disapa Ustadz Taqwa, menegaskan bahwa ibadah zakat, infak, dan sedekah merupakan bentuk konkret dari pengamalan Sila Kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Menurut Ustadz Taqwa, sila kelima bukan sekadar pajangan di dinding atau hapalan di luar kepala, melainkan sebuah cita-cita besar tentang bagaimana seluruh anak bangsa bisa merasakan kesejahteraan secara merata. Di dalam Islam, cita-cita keadilan sosial ini memiliki bentuk praktik yang sangat nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Islam mengajari umat bahwa di dalam harta yang dimiliki, ada hak orang lain yang wajib dikeluarkan. Melalui zakat, terpancar nilai kepedulian yang luar biasa dari orang-orang yang berkelebihan harta (muzakki) untuk langsung didekatkan kepada saudara-saudara yang sedang membutuhkan bantuan (mustahik).
Sinergi sosial seperti ini merupakan wujud gotong royong ekonomi yang paling indah. Langkah ini memastikan bahwa putaran roda ekonomi tidak hanya mandek dan dinikmati oleh segelintir orang kaya saja, melainkan mengalir sampai ke tingkat bawah, menyentuh mereka yang selama ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Lebih lanjut, Ustadz Taqwa menjelaskan bahwa ketika seorang Muslim dengan penuh kesadaran dan keikhlasan menunaikan zakat serta sedekahnya, dia sebenarnya sedang menjalankan dua kewajiban besar sekaligus. Pertama, tunduk pada perintah Allah SWT sebagai wujud kesalehan iman. Kedua, secara langsung ikut serta merajut sila kelima Pancasila di dunia nyata.
Keadilan sosial tidak akan pernah terwujud hanya dengan teori-teori di atas kertas. Keadilan sosial terwujud ketika masyarakat yang berkecukupan mau menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada tetangga yang kelaparan, dan tidak ada anak-anak yatim di sekitar yang putus sekolah karena tiadanya biaya.
Oleh karena itu, Ustadz Taqwa mengajak seluruh umat untuk menjadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai gaya hidup dan urat nadi perekonomian. Dengan mengelola kedermawanan ini secara amanah, profesional, dan tepat sasaran, masyarakat bisa bersama-sama mengangkat harkat martabat saudara-saudara yang membutuhkan agar kelak mereka bisa mandiri secara ekonomi.
Kesalehan beragama harus selalu berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Melalui semangat saling berbagi, umat tidak hanya sedang mengetuk pintu langit untuk menjemput keberkahan, tetapi juga sedang memperkokoh fondasi keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menurut Ustadz Taqwa, sila kelima bukan sekadar pajangan di dinding atau hapalan di luar kepala, melainkan sebuah cita-cita besar tentang bagaimana seluruh anak bangsa bisa merasakan kesejahteraan secara merata. Di dalam Islam, cita-cita keadilan sosial ini memiliki bentuk praktik yang sangat nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Islam mengajari umat bahwa di dalam harta yang dimiliki, ada hak orang lain yang wajib dikeluarkan. Melalui zakat, terpancar nilai kepedulian yang luar biasa dari orang-orang yang berkelebihan harta (muzakki) untuk langsung didekatkan kepada saudara-saudara yang sedang membutuhkan bantuan (mustahik).
Sinergi sosial seperti ini merupakan wujud gotong royong ekonomi yang paling indah. Langkah ini memastikan bahwa putaran roda ekonomi tidak hanya mandek dan dinikmati oleh segelintir orang kaya saja, melainkan mengalir sampai ke tingkat bawah, menyentuh mereka yang selama ini kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Lebih lanjut, Ustadz Taqwa menjelaskan bahwa ketika seorang Muslim dengan penuh kesadaran dan keikhlasan menunaikan zakat serta sedekahnya, dia sebenarnya sedang menjalankan dua kewajiban besar sekaligus. Pertama, tunduk pada perintah Allah SWT sebagai wujud kesalehan iman. Kedua, secara langsung ikut serta merajut sila kelima Pancasila di dunia nyata.
Keadilan sosial tidak akan pernah terwujud hanya dengan teori-teori di atas kertas. Keadilan sosial terwujud ketika masyarakat yang berkecukupan mau menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada tetangga yang kelaparan, dan tidak ada anak-anak yatim di sekitar yang putus sekolah karena tiadanya biaya.
Oleh karena itu, Ustadz Taqwa mengajak seluruh umat untuk menjadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai gaya hidup dan urat nadi perekonomian. Dengan mengelola kedermawanan ini secara amanah, profesional, dan tepat sasaran, masyarakat bisa bersama-sama mengangkat harkat martabat saudara-saudara yang membutuhkan agar kelak mereka bisa mandiri secara ekonomi.
Kesalehan beragama harus selalu berjalan beriringan dengan kepedulian sosial. Melalui semangat saling berbagi, umat tidak hanya sedang mengetuk pintu langit untuk menjemput keberkahan, tetapi juga sedang memperkokoh fondasi keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.