Skip to main content

Ustadz Taqwa Ketua LAZISNU Sumsel Dorong Penguatan ZISWAF sebagai Penyangga Umat di Tengah Melemahnya Rupiah

Deka Faiz
Ustadz Taqwa Ketua LAZISNU Sumsel Dorong Penguatan ZISWAF sebagai Penyangga Umat di Tengah Melemahnya Rupiah
Melemahnya nilai tukar rupiah merupakan fenomena ekonomi yang perlu dicermati dengan bijak, hal ini mengingat dampak rupiah yang mengalami tekanan dan menyentuh titik terendah dalam sejarah modern tidak tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar, tetapi juga oleh masyarakat kecil melalui kenaikan harga barang impor, bahan baku, dan meningkatnya biaya hidup.

Jika kita menelaah sejarah peradaban islam, kta akan dapati bahwa ketahanan ekonomi umat tidak hanya dibangun melalui aktivitas perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui instrumen distribusi kekayaan yang adil. Pada masa Umar bin Khattab, Baitul Mal berfungsi sebagai penyangga sosial ketika masyarakat menghadapi masa sulit. Demikian pula pada masa Umar bin Abdul Aziz, pengelolaan zakat yang efektif mampu mempersempit kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Maka dari itu dalam situasi seperti ini, penguatan ziswaf sebagai instrumen ekonomi sosial yang telah diwariskan oleh peradaban Islam, menjadi salah satu alternatif yang sangat potensial untuk dipertimbangkan

Adapun tantangan utama ZISWAF saat ini adalah masih rendahnya penghimpunan dibandingkan potensi yang ada. Ketika nilai rupiah melemah, kemampuan masyarakat untuk berbagi sering kali ikut menurun karena meningkatnya kebutuhan rumah tangga. Selain itu, sebagian dana sosial masih bersifat konsumtif dan belum sepenuhnya diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Namun di balik tantangan tersebut, terdapat peluang besar. ZISWAF dapat menjadi instrumen stabilisasi sosial dengan membantu masyarakat miskin memenuhi kebutuhan dasar, menjaga daya beli kelompok rentan, serta memperkuat usaha mikro melalui bantuan modal dan pendampingan. Wakaf produktif bahkan dapat menjadi sumber pembiayaan jangka panjang bagi sektor pendidikan, kesehatan, pertanian, dan usaha umat tanpa bergantung pada fluktuasi pasar.

Dalam perspektif peradaban Islam, kekuatan ekonomi umat tidak hanya diukur dari besarnya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kuatnya solidaritas sosial. Ketika terjadi tekanan ekonomi, masyarakat yang memiliki budaya berbagi akan lebih tangguh menghadapi krisis dibanding masyarakat yang hanya mengandalkan mekanisme pasar.

Karena itu, momentum melemahnya rupiah seharusnya menjadi pengingat bahwa ZISWAF bukan sekadar amal kebaikan, melainkan instrumen strategis untuk membangun ketahanan ekonomi umat. Semakin kuat gerakan zakat, infak, sedekah, dan wakaf, semakin besar pula kemampuan masyarakat untuk menghadapi gejolak ekonomi dengan semangat gotong royong, keadilan, dan keberkahan.

“Di saat nilai mata uang mengalami tekanan, nilai kepedulian sosial justru harus semakin menguat. Inilah pelajaran yang diwariskan oleh peradaban Islam kepada kita.”
— Ust. Taqwa, Ketua LAZISNU Sumatera Selatan.
Ustadz Taqwa Ketua LAZISNU Sumsel Dorong Penguatan ZISWAF sebagai Penyangga Umat di Tengah Melemahnya Rupiah