Skip to main content

Menata Keterikatan Hati & Harta, Meraih Kebahagiaan yang Sebenarnya

Deka Faiz
Menata Keterikatan Hati & Harta, Meraih Kebahagiaan yang Sebenarnya
Ada orang yang penghasilannya terus meningkat, rumahnya semakin besar, kendaraannya semakin baik, dan tabungannya semakin banyak. Dari luar, kehidupannya tampak semakin mapan. Namun anehnya, rasa tenangnya tidak selalu ikut bertambah.

Semakin banyak yang dimiliki, semakin banyak pula yang dikhawatirkan: takut kehilangan, takut berkurang, takut tidak mampu mempertahankan gaya hidup, bahkan takut kembali kepada keadaan sebelumnya.

Ia bekerja untuk mendapatkan harta. Setelah mendapatkannya, ia bekerja lebih keras untuk menjaganya. Lalu bekerja lebih keras lagi untuk menambahnya.

Tanpa disadari, sesuatu yang semula dicari sebagai sarana kehidupan perlahan berubah menjadi pusat kehidupan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah kita yang memiliki harta, atau jangan-jangan harta yang mulai memiliki kita?

Ketika harta berpindah dari tangan ke hati

Harta pada dirinya bukanlah sesuatu yang buruk. Islam tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia atau menganggap kekayaan sebagai sesuatu yang tercela.

Persoalannya bukan pada seberapa banyak harta yang berada di tangan, tetapi pada seberapa kuat harta mengikat hati.

Ketika harta berada di tangan, ia dapat menjadi nikmat, amanah, dan sarana kebaikan. Tetapi ketika harta telah menguasai hati, ia dapat berubah menjadi ujian.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)

Ayat ini tidak sedang memerintahkan manusia meninggalkan kehidupan dunia. Yang perlu diwaspadai adalah ketika dunia membuat manusia lupa kepada tujuan hidupnya.

Sebab persoalannya bukan memiliki harta, tetapi ketika harta berubah dari sarana menjadi tujuan.

Ketika rasa cukup semakin jauh

Keterikatan kepada harta sering kali tidak muncul secara tiba-tiba.

Awalnya kita mencari harta untuk memenuhi kebutuhan. Kemudian ingin memiliki lebih karena merasa lebih aman. Setelah itu mulai membandingkan diri dengan orang lain. Kita ingin mempertahankan status, gaya hidup, dan pengakuan.

Akhirnya, rasa cukup semakin sulit ditemukan.

Harta bertambah, tetapi ketenangan belum tentu bertambah.

Di sinilah kita perlu mengenal kembali tazkiyatun nafs.

Tazkiyah bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan menata hubungan manusia dengan dunia. Harta tetap berada di tangan, tetapi tidak menjadi penguasa hati.

Jiwa dibersihkan dari keserakahan, kekikiran, kesombongan, dan keterikatan berlebihan. Pada saat yang sama, ditumbuhkan syukur, qana’ah, keikhlasan, kepedulian, dan kesadaran bahwa apa yang kita miliki pada akhirnya adalah amanah dari Allah.

Imam al-Ghazali memberikan perhatian besar pada dimensi batin manusia. Menurutnya, perubahan yang sejati tidak cukup hanya dengan memperbaiki perilaku lahir, tetapi membutuhkan perjuangan untuk mendidik dan membersihkan jiwa melalui mujahadah dan riyadhah al-nafs.

Dalam konteks harta, perjuangan itu dapat terlihat dari kemampuan seseorang untuk memiliki tanpa diperbudak oleh kepemilikan.

Apakah kekayaan membuat kita semakin bersyukur atau semakin rakus?

Apakah kelapangan membuat kita semakin dermawan atau semakin takut kehilangan?

Apakah harta mendekatkan kita kepada Allah atau justru membuat kita semakin sibuk mengejar dunia?

Harta yang menjadi jalan pulang kepada Allah

Karena itu, hubungan kita dengan harta perlu dievaluasi.

Bukan hanya bertanya apakah penghasilan kita bertambah, tetapi apakah syukur kita ikut bertambah.

Bukan hanya apakah aset kita berkembang, tetapi apakah kepedulian kita ikut tumbuh.

Bukan hanya apakah kita semakin mampu membeli, tetapi apakah kita juga semakin mampu berbagi.

Di sinilah ZISWAF menemukan makna spiritualnya.

Zakat mengajarkan ketaatan dan menguji kesediaan kita menunaikan hak yang terdapat dalam harta.

Infak dan sedekah melatih keikhlasan, kemurahan hati, dan kepedulian terhadap sesama.

Wakaf mengajarkan bagaimana harta yang kita miliki dapat terus menghadirkan manfaat bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di dunia.

Dengan demikian, ketika harta digunakan untuk kebaikan, yang berubah bukan hanya kehidupan orang lain. Pemilik harta pun sedang mengalami proses perubahan.

Ia belajar melepaskan.

Ia belajar bersyukur.

Ia belajar mempercayai Allah.

Ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari semakin banyak memiliki, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan manfaat melalui apa yang dimiliki.

Financial freedom yang sebenarnya

Mungkin selama ini kita memahami financial freedom sebagai kondisi ketika seseorang memiliki harta yang cukup sehingga tidak lagi khawatir terhadap kebutuhan finansial.

Namun dalam perspektif yang lebih spiritual, ada kebebasan yang jauh lebih dalam:

Financial freedom bukan tentang membebaskan diri dari kekurangan harta, tetapi membebaskan jiwa dari keterikatan kepadanya.

Sebab seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi hidup dalam ketakutan kehilangan.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki kecukupan sederhana tetapi hatinya lapang karena mengetahui bahwa harta hanyalah titipan dan kehidupan memiliki tujuan yang lebih tinggi.

Pada titik itulah harta kembali kepada fungsi yang semestinya: menjadi wasilah, bukan tujuan; menjadi amanah, bukan sesembahan; menjadi jalan kebermanfaatan, bukan sumber keterikatan.

Maka mungkin yang perlu kita cari bukan sekadar lebih banyak harta, tetapi lebih sehat hubungan kita dengan harta.

Sebab kebahagiaan yang sebenarnya bukan ketika kita memiliki segala sesuatu yang kita inginkan, melainkan ketika hati tetap tenang meskipun tidak memiliki segala sesuatu yang kita inginkan—karena kita tahu kepada siapa kita menggantungkan kehidupan.

Dan salah satu cara melatih kebebasan hati itu adalah belajar berbagi.

Mari latih jiwa dengan berbagi

Jadikan sebagian dari harta yang Allah titipkan sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat.

Mari latih jiwa dengan berbagi melalui LAZISNU Sumatera Selatan.

BSI: 734 0050 112
a.n. LAZISNU SUMSEL

Konfirmasi: 0821-621-3881
Admin LAZISNU Sumsel

Karena setiap harta yang kita keluarkan di jalan kebaikan bukan sekadar mengurangi apa yang kita miliki.

Ia bisa menjadi bagian dari perjalanan membebaskan hati dari keterikatan kepada harta dan mengembalikannya kepada tujuan kehidupan yang sebenarnya: mencari ridha Allah dan menghadirkan kebermanfaatan.
Menata Keterikatan Hati & Harta, Meraih Kebahagiaan yang Sebenarnya