Ketua LAZISNU Sumsel Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan di Tengah Perbedaan
Deka Faiz

Palembang — Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Sumatera Selatan menegaskan pentingnya menjaga persatuan umat Islam di tengah adanya perbedaan dalam penentuan awal Syawal. Hal ini disampaikan sebagai bentuk komitmen LAZISNU Sumsel dalam merawat ukhuwah Islamiyah serta menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.
Ketua LAZISNU Sumsel, Ustadz Taqwa, menyampaikan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya merupakan hal yang wajar dan telah menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam. Menurutnya, perbedaan tersebut lahir dari metode ijtihad yang berbeda dan harus disikapi dengan kedewasaan serta sikap saling menghormati.
“Perbedaan dalam penentuan Syawal tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Justru ini menjadi momentum bagi kita untuk menunjukkan kedewasaan dalam beragama, dengan tetap menjaga persaudaraan dan saling menghargai,” ujar Ustadz Taqwa.
Ia juga menekankan bahwa persatuan umat merupakan hal yang jauh lebih utama untuk dijaga dibandingkan memperdebatkan perbedaan yang bersifat furu’iyah (cabang). Dalam pandangannya, menjaga harmoni sosial dan memperkuat ukhuwah adalah bagian dari implementasi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Lebih lanjut, Ustadz Taqwa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan yang ada, serta tetap mengedepankan sikap bijak dan saling menghormati dalam menyikapinya.
“Yang terpenting bukan pada perbedaan waktunya, tetapi bagaimana kita tetap menjaga hati, menjaga persaudaraan, dan memperkuat kebersamaan sebagai umat Islam,” tambahnya.
Melalui momentum ini, LAZISNU Sumsel berharap masyarakat dapat menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk memperkuat persatuan, bukan sebaliknya. Dengan demikian, suasana Idul Fitri tetap dapat dirasakan dengan penuh kedamaian, kebersamaan, dan keberkahan.
Ketua LAZISNU Sumsel, Ustadz Taqwa, menyampaikan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya merupakan hal yang wajar dan telah menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam. Menurutnya, perbedaan tersebut lahir dari metode ijtihad yang berbeda dan harus disikapi dengan kedewasaan serta sikap saling menghormati.
“Perbedaan dalam penentuan Syawal tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Justru ini menjadi momentum bagi kita untuk menunjukkan kedewasaan dalam beragama, dengan tetap menjaga persaudaraan dan saling menghargai,” ujar Ustadz Taqwa.
Ia juga menekankan bahwa persatuan umat merupakan hal yang jauh lebih utama untuk dijaga dibandingkan memperdebatkan perbedaan yang bersifat furu’iyah (cabang). Dalam pandangannya, menjaga harmoni sosial dan memperkuat ukhuwah adalah bagian dari implementasi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Lebih lanjut, Ustadz Taqwa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan yang ada, serta tetap mengedepankan sikap bijak dan saling menghormati dalam menyikapinya.
“Yang terpenting bukan pada perbedaan waktunya, tetapi bagaimana kita tetap menjaga hati, menjaga persaudaraan, dan memperkuat kebersamaan sebagai umat Islam,” tambahnya.
Melalui momentum ini, LAZISNU Sumsel berharap masyarakat dapat menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk memperkuat persatuan, bukan sebaliknya. Dengan demikian, suasana Idul Fitri tetap dapat dirasakan dengan penuh kedamaian, kebersamaan, dan keberkahan.